Rabu, 17 April 2019

5 Alasan Kenapa Kamu Harus Beli FIFA 19

1. Liga Champions
Setelah sekian lama ditunggu oleh fans beratnya, Liga Champions (atau Champions League) hadir di FIFA 19.
Berhubung hanya versi demo, kamu hanya bisa bermain salah satu tim yang masuk ke dalam babak penyisihan grup Champions League--semi final dan final.
Meski begitu, format pertandingan yang ditawarkan mirip dengan asilnya.

2.Fisik Pemain Lebih Nyata

Setiap kali seri FIFA dirilis, banyak fans gim tersebut bertanya-tanya tentang apa yang berubah dalam gim itu.
Selain daftar transfer pemain terkini dan hadirnya Liga Champions, FIFA 19 hadir dengan peningkatan hal kecil namun sering diminta oleh pemain setianya.
Salah satu hal itu adalah bagaimana raut muka reaksi pemain ketika berinteraksi dengan bola saat pertandingan.
Di FIFA 19, pengembang meningkatkan kemampuan tersebut sehingga gamer dapat melihat raut muka pesepak bola ketika kesakitan, senang, hingga emosi.
3. Taktik Berperang Penting
Siapa dari kamu yang hanya menggunakan taktik dan formasi default di setiap pertandingan?
Walau kamu bisa menang menggunakan taktik tersebut, gamer kini bisa langsung mengatur strategi atau taktik hanya dengan menekan sebuah tombol.
Sebagai bagian dari pengaturan taktik tim di lapangan, gamer dapat mengatur bagaimana 11 pesepakbola bergerak dalam situasi tertentu.

4. Lapangan Tengah Makin Intens

Di beberapa seri FIFA sebelumnya, pengembang fokus dalam peningkatan dalam hal serangan dan bertahan. Kini, lapangan tengah akan menjadi fokus utama di FIFA 19.
Berkat kecerdasan buatan tim lawan, gamerharus lebih kreatif dan agresif untuk merebut bola dari lawan.
5. Kendali Shooting Bola Lebih Baik
Tak hanya membuat lini tengah lapangan lebih 'aktif', EA Sports juga meningkatkan kontrol bola pemain saat melakukan shooting ke arah gawang.
Dengan fitur yang diberi nama Timed Finishing, pemain dapat mengubah tembakan bola biasa menjadi gol yang mampu mengalahkan kiper terbaik sekalipun.

Review Call of Duty – Black Ops 4: Ternyata Tepat Sasaran!

sebuah game yang berhasil mencuri perhatian dunia karena kemampuannya menyajikan cerita dengan karakter memorable dan begitu banyak momen dramatis di dalam mode campaign, menjadi sebuah game yang kini hanya “sekedar” menjual mode multiplayer saja. Tetapi di sisi lain, hal inilah yang sepertinya diinginkan gamer. Diklaim berbasiskan data yang mereka kumpulkan, langkah ekstrim inilah yang dilakukan Treyarch dan Activision dengan Call of Duty: Black Ops 4 yang dilepas ke pasaran beberapa minggu yang lalu. Dan sejauh kami mencicipinya, secara mengejutkan, langkah ekstrim yang satu ini ternyata berujung terbayar manis.Dalam waktu singkat, kami sebenarnya sudah menjajal tiga mode terpisah yang ia jadikan sebagai andalan: mode multiplayer konvensional yang kini juga didukung dengan beberapa format permainan baru, mode battle-royale “Blackout” yang memesona, dan akhirnya mode zombie yang dijadikan sebagai alternatif untuk Anda yang lebih menginginkan sensasi yang lebih kooperatif. Kami pada akhirnya harus mengakui, bahwa pengalaman multiplayer yang ditawarkan ternyata berakhir dengan kesan yang kuat. Hasilnya? Dibandingkan dengan seri-seri Calll of Duty yang lain, kami memang menghabiskan waktu paling banyak dengan Black Ops 4.
Lantas, apa yang sebenarnya ia tawarkan? Mengapa kami menyebutnya sebagai sebuah game yang tepat sasaran? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda.

Kelebihan


  • Sensasi multiplayer yang segar tetapi juga familiar
  • Blackout berujung adiktif dan seru
  • Desain level – Blackout ataupun multiplayer konvensional yang seru
  • Ada banyak item kosmetik untuk dikejar
  • Komunitas aktif dan masalah teknis yang minim
  • Desain audio yang punya peran signifikan dalam gameplay
    • Cerita tersemat dalam mode tutorial yang membosankan
    • Mode zombie tetap tidak menggoda
    • Sistem peran dan kerjasama tim yang masih terasa lemah
    Cocok untuk gamer: yang mencintai mode multiplayer COD selama ini, butuh game battle-royale berkelas
    Tidak cocok untuk gamer: yang menginginkan mode campaign kuat, lebih menyenangi sensasi multiplayer pertarungan masif ala Battlefield
  • Kesimpulan


Melegakan adalah kata yang akan kami pilih untuk menjelaskan pengalaman yang kami rasakan dengan Black Ops 4. DI awal, ketika konfirmasi bahwa ia tidak lagi mengusung mode campaign mengemuka, ada rasa pesimis  yang kuat bahwa seri terbaru ini akan berhasil tampil menggoda dan menarik. Namun siapa yang menyangka bahwa dari semua seri Call of Duty yang sempat dirilis ke pasaran, kami justru berakhir menghabiskan waktu terbanyak dengan Black Ops 4. Sistem Specialist di mode multiplayer konvensional berhasil menawarkan sesuatu yang terasa menyegarkan di atas sebuah sistem yang begitu familiar. Blackout juga berujung jadi sebuah game battle-royale yang sudah lama diimpikan, sebuah game yang minim masalah teknis dan memang terasa seperti sebuah game AAA. Semuanya dibungkus pula dengan sistem microtransactions yang hanya berfokus pada kosmetik saja.Namun di sisi lain, bukan berarti game ini sempurna. Dengan semua daya tarik cut-scene keren nan dramatis yang ia racik, sayang sepertinya bahwa ia disematkan hanya di mode tutorial yang sepertinya akan dilewatkan oleh banyak gamer begitu saja. Pembagian peran yang begitu lemah terlepas dari kehadiran sistem hero via Specialist juga cukup mengejutkan, mengingat beberapa karakter terasa hadir dengan skill ofensif setengah hati yang di mode-mode tertentu, hampir mustahil punya peran besar dan butuh balancing lebih jauh. Berangkat dari preferensi pribadi, mode zombie juga berujung tidak semenarik yang kami bayangkan. Setidaknya proses menjajalnya tidak berujung berhasil membuat kami melihatnya sebagai mode esensial yang harus dijajal.
Terlepas dari kekurangan tersebut, Black Ops 4 hadir sebagai kejutan. Sebuah seri yang kami prediksi akan gagal di pasaran berujung menjadi salah satu seri Call of Duty paling seru dan paling adiktif yang pernah kami jajal selama ini. Acungan dua jempol juga pantas diarahkan pada desain Blackout yang berujung menjadi daya tarik yang melebihi ekspektasi.

ASSASSIN'S CREED IV: BLACK FLAG

Belum begitu lama Assassin's Creed IIIdiluncurkan, para gamers sudah dikejutkan kembali dengan hadirnya sekuel terbaru dari seri Assassin's Creed, yaitu Assassin's Creed IV: Black Flag. Rumor mengenai sekuel terbaru itu, telah digembor-gemborkan sejak awal tahun tepatnya pada bulan Februari 2013, sedangkan rilisnya Assassin's Creed III dilakukan pada bulan Oktober 2013. Sehingga dapat disimpulkan, Ubisoft memang sudah mempersiapkan sekuel baru tersebut dan sudah sangat berniat untuk mengejutkan para gamers khususnya fans dari seri game Assassin's Creed.
Assassin's Creed IV: Black Flag memiliki setting waktu pada abad ke-18 dan memperkenalkan assassin baru bernama Edward Kenway, pemuda Inggris yang haus akan bahaya serta petualangan. Edward akan berpetualang sebagai prajurit Royal Navy sampai bajak laut, diantara keadaan perang kerajaan yang besar. Edward yang digambarkan sebagai bajak laut bengis dan petarung yang berpengalaman, terperangkap dalam pertempuran antara kaum assassins dan templars. Bajak laut terkenal seperti Blackbeard dan Charles Vane dapat para gamers lihat di dalam game ketika telah berpetualang ke seluruh wilayah Hindia Barat. Sehingga Assassin's Creed IV: Black Flag ini akan membawa para gamers ke dalam masa-masa kejayaan para bajak laut yang sering disebut "Golden Age of Pirates".

Assassin's Creed IV: Black Flag akan menghadirkan 50 tempat berbeda di dalam game, seperti Kuba, Bahama, Nassau dan Florida Selatan, serta sejumlah area seperti hutan, kuil reruntuhan Suku Maya dan kuburan bangkai kapal di bawah laut. Gameplay sekuel terbaru dari seri game Assassin's Creed itu tidak jauh berbeda dengan seri sebelumnya, pemain masih akan bertarung dengan memanfaatkan berbagai senjata khas assassin dan menghabisi musuh secara sembunyi-sembunyi.

Selasa, 09 April 2019

Review MGS V – The Phantom Pain: Puas dan Kecewa di Saat yang Sama!

Kept you waiting, huh? Setelah cukup lama bermain Metal Gear Solid V: The Phantom Pain, akhirnya saya merasa cukup siap untuk menyampaikan apa saja yang akan kamu dapatkan pada seri Metal Gear Solid terakhir dari Hideo Kojima. Sebagai game terakhir sang legenda di Konami, apakah gameini mampu untuk membuatmu tidak beranjak dari depan layar?
Saya rasa Metal Gear Solid V: The Phantom Pain akan membuatmu betah berlama-lama duduk sambil menerbangkan setiap domba yang ditemukan. Ya, saya cukup positif bahwa Metal Gear Solid V: The Phantom Pain adalah game impian penggemar genre stealth, baik untuk kamu yang sebelumnya pernah menyentuh seri Metal Gear Solid ataupun belum.

Perkembangan Iterasi Kelima Sejak Ground Zeroes

Melanjutkan cerita dari Metal Gear Solid V: Ground Zeroes, kamu masih akan bermain sebagai Big Boss atau yang kali ini disebut sebagai Venom Snake. Paska kehancuran Outer Heaven oleh serangan Cipher, Snake terbangun dari koma dan kini harus kembali membangun “negara impian” sekaligus membalaskan dendam terhadap Cipher yang telah menghancurkan segalanya.
Review Metal Gear Solid V The Phantom Pain | Screenshot
Cerita yang disuguhkan mungkin akan terasa sedikit berbeda dengan apa yang sudah pernah kamu alami dalam seri Metal Gear Solid sebelumnya. Metal Gear Solid V: The Phantom Pain bisa dibilang memiliki ketebalan cerita yang lebih tipis dibanding apa yang kamu temukan ketika suara Snake masih diisi oleh David Hayter.

Game Karya Hideo Kojima

Review Metal Gear Solid V The Phantom Pain | Image2Cutscene di Metal Gear Solid V: The Phantom Pain masih tetap memiliki kualitas arahan yang sangat “Hideo Kojima” dan terasa makin sinematik dengan gerakan kamera yang bergoyang-goyang serta penggunaan lens flare berlebihan. Untuk masalah percakapan via codec, hal tersebut mungkin tidak kembali dimunculkan secara penuh tapi masih bisa dirasakan lewat kumpulan percakapan yang ada di pemutar kaset.
Karakter yang muncul juga mungkin tidaklah sebanyak seri Metal Gear Solid yang sebelumnya dan mungkin tidak terlalu begitu berkesan. Beberapa karakter bahkan sudah pernah disebutkan dalam Metal Gear Solid: Peace Walker.
Perjuangan Snake dalam game ini dimulai pada tahun 80-an, namun tidak terasa seperti zaman ketika A-ha merajai tangga lagu di berbagai belahan dunia. Persenjataan dan perlengkapan yang tersedia terasa seperti layaknya tahun 80-an, namun dengan elemen sci-fi futuristis. Sedikit berlebihan, namun entah mengapa masih bisa dipercaya.
Latar di Afghanistan yang dipenuhi padang pasir juga membuat segala sesuatu terlihat sangat kontras, entah dari segi lingkungan dengan konsep sci-fi ataupun cerita dengan karakternya.Review Metal Gear Solid V The Phantom Pain | Screenshot3

Game Stealth Padat Isi

Review Metal Gear Solid V The Phantom Pain | Image3Gameplay yang dihadirkan Metal Gear Solid V: The Phantom Painsangatlah padat konten. Jika di seri-seri sebelumnya Metal Gear Solidakan dipenuhi narasi cerita yang luar biasa dengan kendali yang sulit dikuasai, maka Metal Gear Solid V: The Phantom Pain memiliki gameplay yang sangat luar biasa namun dengan porsi cerita yang lebih sedikit.
Bila harus dijelaskan dengan satu kalimat, maka Metal Gear Solid V: The Phantom Pain adalah sebuah game third-person shooter stealth action open-world yang dilengkapi elemen simulasi.
Dalam Metal Gear Solid V: The Phantom Pain, kamu akan menghabiskan kebanyakan waktu pada suatu daerah di Afghanistan yang liar dan tandus. Seperti layaknya sebuah game open-world,kamu akan menerima berbagai misi utama dan misi sampingan yang bisa kamu lakukan kapanpun. Masing-masing misi akan memberikan berbagai imbalan yang berguna untuk memperkuat perlengkapan hingga markasmu.Review Metal Gear Solid V The Phantom Pain | Screenshot5

Gameplay yang Kaya Fitur

Review Metal Gear Solid V The Phantom Pain | Image5Perlengkapan yang mendukung kesuksesanmu dalam menjalankan sebuah misi juga sangat menarik. Mulai dari kotak kardus yang ikonik, phantom cigar yang berguna untuk melalui waktu, hingga tinju roket akan tersedia dalam sederet perlengkapanmu.
Persenjataan juga rasanya tidak perlu ditanyakan lagi karena masing-masing senjata memiliki karakteristik yang unik serta bisa diperbaharui dengan upgrade. Luasnya pilihan perlengkapan ini membuat kamu bisa membuat metode tersendiri dalam menyelesaikan sebuah misi.
Bagaimana caranya untuk mengakses upgradeperlengkapan tersebut? Secara garis besar, kamu harus memperluas Mother Base milikmu dengan berbagai cara seperti merekrut orang hingga melakukan upgrade markas dengan menggunakan berbagai bahan baku yang tersebar di Afghanistan. Mungkin hal ini terkesan seperti sebuah rutinitas, namun rutinitas ini justru terasa cukup menyenangkan.
Pengelolaan Mother Base juga memiliki banyak sekali hal yang bisa kamu eksplorasi dan saya pikir dapat membuat kamu ketagihan ketika berusaha memperkuat markas milikmu itu.Review Metal Gear Solid V The Phantom Pain | Screenshot9
Review Metal Gear Solid V The Phantom Pain | Image7Tidak berhenti di situ saja. Dalam masalah stealth, Metal Gear Solid V: The Phantom Pain juga memiliki berbagai cara untuk bisa menyelinap masuk ke pertahanan lawan. Cara-cara seperti masuk ke gorong-gorong, bersembunyi di toilet sambil mengeluarkan “bunyi” yang menjauhkan musuh, berpindah tempat menggunakan kardus, dan sebagainya bisa kamu lakukan untuk bisa menyelesaikan misi tanpa dideteksi musuh sama sekali. Pakaian kamuflase yang kamu gunakan juga sangat berpengaruh pada tingkat visibilitasmu, jadi perhitungkan juga faktor tersebut.
Ada juga sistem Buddy di mana kamu bisa memilih satu partner yang nantinya bisa dibawa ke medan pertempuran. Masing-masing partner memiliki kelebihan dan fungsinya sendiri. Tidak lupa juga perlengkapan milik partner yang kamu pilih juga bisa diperbaharui lewat upgrade dan lainnya.
Pengalaman dalam bermain Metal Gear Solid V: The Phantom Pain terasa sangat beragam meski kamu memainkan sebuah misi untuk kedua kalinya. Berkat AI musuh yang kompleks, perubahan waktu siang dan malam, efek cuaca yang mempengaruhi penglihatan, pemilihan partner, hingga elemen lainnya yang mempengaruhi performamu di lapangan akan sangat mengubah pengalaman dalam game ini. Yang pasti, ada banyak hal baru yang menantimu walaupun sudah cukup lama memainkan Metal Gear Solid V: The Phantom Pain.
Review Metal Gear Solid V The Phantom Pain | Screenshot2

Kesimpulan

Metal Gear Solid V: The Phantom Pain adalah sebuah game yang luar biasa. Mungkin tidak banyak hal yang disampaikan lewat cerita dalam Metal Gear Solid V: The Phantom Pain. Tapi dari segi permainan, game ini berhasil membawakan sebuah gameplay padat konten dengan fitur yang luas serta kendali yang mantap.
Saya berani menyatakan bahwa Metal Gear Solid V: The Phantom Pain adalah mahakarya dari Hideo Kojima yang wajib untuk kamu alami sendiri baik untuk penggemar Metal Gear Solidlama maupun pemain baru.