Rabu, 17 April 2019

Review Call of Duty – Black Ops 4: Ternyata Tepat Sasaran!

sebuah game yang berhasil mencuri perhatian dunia karena kemampuannya menyajikan cerita dengan karakter memorable dan begitu banyak momen dramatis di dalam mode campaign, menjadi sebuah game yang kini hanya “sekedar” menjual mode multiplayer saja. Tetapi di sisi lain, hal inilah yang sepertinya diinginkan gamer. Diklaim berbasiskan data yang mereka kumpulkan, langkah ekstrim inilah yang dilakukan Treyarch dan Activision dengan Call of Duty: Black Ops 4 yang dilepas ke pasaran beberapa minggu yang lalu. Dan sejauh kami mencicipinya, secara mengejutkan, langkah ekstrim yang satu ini ternyata berujung terbayar manis.Dalam waktu singkat, kami sebenarnya sudah menjajal tiga mode terpisah yang ia jadikan sebagai andalan: mode multiplayer konvensional yang kini juga didukung dengan beberapa format permainan baru, mode battle-royale “Blackout” yang memesona, dan akhirnya mode zombie yang dijadikan sebagai alternatif untuk Anda yang lebih menginginkan sensasi yang lebih kooperatif. Kami pada akhirnya harus mengakui, bahwa pengalaman multiplayer yang ditawarkan ternyata berakhir dengan kesan yang kuat. Hasilnya? Dibandingkan dengan seri-seri Calll of Duty yang lain, kami memang menghabiskan waktu paling banyak dengan Black Ops 4.
Lantas, apa yang sebenarnya ia tawarkan? Mengapa kami menyebutnya sebagai sebuah game yang tepat sasaran? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda.

Kelebihan


  • Sensasi multiplayer yang segar tetapi juga familiar
  • Blackout berujung adiktif dan seru
  • Desain level – Blackout ataupun multiplayer konvensional yang seru
  • Ada banyak item kosmetik untuk dikejar
  • Komunitas aktif dan masalah teknis yang minim
  • Desain audio yang punya peran signifikan dalam gameplay
    • Cerita tersemat dalam mode tutorial yang membosankan
    • Mode zombie tetap tidak menggoda
    • Sistem peran dan kerjasama tim yang masih terasa lemah
    Cocok untuk gamer: yang mencintai mode multiplayer COD selama ini, butuh game battle-royale berkelas
    Tidak cocok untuk gamer: yang menginginkan mode campaign kuat, lebih menyenangi sensasi multiplayer pertarungan masif ala Battlefield
  • Kesimpulan


Melegakan adalah kata yang akan kami pilih untuk menjelaskan pengalaman yang kami rasakan dengan Black Ops 4. DI awal, ketika konfirmasi bahwa ia tidak lagi mengusung mode campaign mengemuka, ada rasa pesimis  yang kuat bahwa seri terbaru ini akan berhasil tampil menggoda dan menarik. Namun siapa yang menyangka bahwa dari semua seri Call of Duty yang sempat dirilis ke pasaran, kami justru berakhir menghabiskan waktu terbanyak dengan Black Ops 4. Sistem Specialist di mode multiplayer konvensional berhasil menawarkan sesuatu yang terasa menyegarkan di atas sebuah sistem yang begitu familiar. Blackout juga berujung jadi sebuah game battle-royale yang sudah lama diimpikan, sebuah game yang minim masalah teknis dan memang terasa seperti sebuah game AAA. Semuanya dibungkus pula dengan sistem microtransactions yang hanya berfokus pada kosmetik saja.Namun di sisi lain, bukan berarti game ini sempurna. Dengan semua daya tarik cut-scene keren nan dramatis yang ia racik, sayang sepertinya bahwa ia disematkan hanya di mode tutorial yang sepertinya akan dilewatkan oleh banyak gamer begitu saja. Pembagian peran yang begitu lemah terlepas dari kehadiran sistem hero via Specialist juga cukup mengejutkan, mengingat beberapa karakter terasa hadir dengan skill ofensif setengah hati yang di mode-mode tertentu, hampir mustahil punya peran besar dan butuh balancing lebih jauh. Berangkat dari preferensi pribadi, mode zombie juga berujung tidak semenarik yang kami bayangkan. Setidaknya proses menjajalnya tidak berujung berhasil membuat kami melihatnya sebagai mode esensial yang harus dijajal.
Terlepas dari kekurangan tersebut, Black Ops 4 hadir sebagai kejutan. Sebuah seri yang kami prediksi akan gagal di pasaran berujung menjadi salah satu seri Call of Duty paling seru dan paling adiktif yang pernah kami jajal selama ini. Acungan dua jempol juga pantas diarahkan pada desain Blackout yang berujung menjadi daya tarik yang melebihi ekspektasi.

2 komentar: